Isikan Lengkap Teks Proklamasi Kemerdekaan RI yang Dibaca Tiap Upacara 17 Agustus
Berikut ini teks Proklamasi Kemerdekaan RI yang dibaca ketika upacara peringatan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021.
Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan jadi satu agenda sangat penting didalam upacara 17 Agustus.
Dikutip berasal dari laman cagarbudaya.kemdikbud.go.id, Senin (16/8/2021), selanjutnya isikan teks Proklamasi Kemerdekaan:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pindahan kekoeasaan d.l.l., diadakan dengan tjara seksama dan didalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Baca termasuk LIRIK Lagu Indonesia Raya 3 Stanza, Ini peristiwa Terbentuknya Lagu Indonesia Raya
Baca termasuk Rayakan Hari Kemerdekaan, ShopeePay 17.8 semangat UMKM Lokal Hadirkan 3 Promo Spektakuler
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta.”
Teks Proklamasi Kemerdekaan RI ini merupakan hasil ketikan dari naskah postingan tangan Soekarno yang disetujui oleh peserta sidang perumusan proklamasi atas usul Soekarni.
Teks ini sedikit berlainan bersama naskah tulisan tangan Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 dini hari yang sempat disimpan oleh BM Diah, yang sekarang disimpan di Arsip Nasional Indonesia, Jakarta.
Perbedaan berikut terkait dengan:
a. Kata “hal2” pada paragraf ke dua baris pertama diubah mulai “hal-hal”;
b. Kata “saksama” antara paragraf ke dua baris kedua diubah jadi “tempo”;
d. Penulisan tanggal dan bulan “Djakarta 17-08-05” terasa “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”; dan
e. kata-kata “wakil2 bangsa Indonesia” jadi “Atas nama bangsa Indonesia”.
Baca terhitung Semarak HUT ke-76 Kemerdekaan RI, fans Film bakal Dimanjakan Tontonan Gratis
Baca terhitung 9 media Bersejarah Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia
Sejarah Perumusan Teks Proklamasi
Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, teks proklamasi diketik oleh Sayuti Melik dan dibacakan oleh Soekarno antara 17 Agustus 1945.
Sejarah perumusan teks proklamasi di awali ketika pihak Jepang menjelaskan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di tanggal 15 Agustus 1945.
Golongan muda yang mengetahui kabar tersebut berasal dari siaran Radio BBC punya Inggris, mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera gunakan keadaan bersama menjelaskan proklamasi.
Namun, Soekarno-Hatta menampik karena belum ada pernyataan formal dari pemerintah Jepang.
Golongan tua berpendapat, lebih baik menanti hingga 24 Agustus, yaitu tanggal yang ditetapkan Marsekal Terauchi untuk saat kemerdekaan Indonesia, ketika menerima Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat di Dalat, Vietnam.
Pada 15 Agustus 1945, para pemuda di bawah pimpinan Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana bersepakat untuk mengamankan dwitunggal bersama Ibu Fatmawati dan Guntur ke Rengasdengklok, dengan harapan agar mereka menuruti kemauan para pemuda.
Namun, selama hari 16 Agustus 1945 itu, tidak tercapai kesepakatan apapun.
Hingga sorenya, Ahmad Soebardjo ada dan berusaha membujuk para pemuda untuk melewatkan dwitunggal.
Akhirnya mereka bersedia bersama dengan jaminan oleh Soebardjo bahwa proklamasi akan berjalan esok hari.
Baca juga HUT Ke-76, Jokowi Pimpin Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMP Kalibata
Baca termasuk DAFTAR Gerai Kuliner yang Gelar Promo Hari Kemerdekaan RI: Pizza HUT, KFC, Burger King, sampai McD
Malam itu termasuk rombongan berangkat ke Jakarta, menuju rumah Laksamana Maeda di Meiji Dori no 1 untuk membahas persoalan tersebut.
Setibanya di sana, tuan rumah menuturkan problem dan informasi yang sebetulnya terjadi.
Maeda lantas mempersilakan ketiga tokoh menemui Gunseikan (Kepala Pemerintah Militer) Jenderal Moichiro Yamamoto untuk membicarakan usaha tindaklanjut yang dapat dilakukan.
Namun, setibanya di Markas Gunseikan di kawasan Gambir, mereka bertiga mendapat jawaban yang mengecewakan gara-gara Jenderal Nishimura yang mewakili Gunseikan melarang segala wujud usaha perubahan keadaan yang dilakukan.
Mereka diharuskan tunggu Sekutu datang terlebih dahulu.
Ketiga tokoh bersepakat bahwa Jepang tidak dapat diharapkan ulang dan kemerdekaan harus segera dirancang secepatnya.
Anggota PPKI yang menginap di Hotel Des Indes langsung dikawal oleh Sukarni dan kawan-kawan menuju rumah Maeda.
Tanggal 17 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, naskah proklamasi disusun oleh Soekarno, Hatta, dan Soebardjo di area makan Maeda.
Naskah sebanyak dua alinea yang penuh dengan kesimpulan tersebut lantas selesai dibuat 2 jam kemudian.
Naskah kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.
Tanpa saat lama, Sayuti Melik didampingi BM Diah lantas mengetik naskah proklamasi.
Setelah itu, naskah diserahkan ulang kepada Soekarno untuk ditandatangani.
Pada hari Proklamasi Kemerdekaan, teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta pada Jumat pukul 10.00 di serambi depan rumah Soekarno, jalan Pegangsaan Timur nomer 56, Djakarta (sekarang jalan Proklamasi nomor 5, Jakarta Pusat).
Setelah pembacaan proklamasi, bendera pusaka merah-putih dikibarkan untuk pertama kalinya yang disaksikan oleh masyarakat di Jakarta.
Prosesi yang sebenarnya tanpa protokol, nyatanya tidak menghalangi gelora euforia rakyat didalam merayakan dan menyebarluaskan berita luar biasa ini.
Peran para pewarta terlalu vital di dalam histori ini, antara lain Frans dan Alex Mendoer berasal dari IPPHOS yang mengabadikan peristiwa pembacaan proklamasi, BM Diah dan Jusuf Ronodipuro yang menolong penyebaran berita proklamasi melewati beragam cara seperti radio, surat kabar, telegram, serta lewat lisan.